Itamutiara’s Weblog











<!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>

Resep Hidup Mulia dari Nabi saw.

Rasululah saw adalah orang yang mulia. Bahkan beliaulah orang termulia sepanjang zaman. Kemuliaan itu diperolehnya karena iman dan takwa yang teguh tertancap di dalam dada. Iman dan takwa yang tidak tunduk oleh cemoohan dan hinaan. Tidak takhluk permusuhan dan tak tekecoh oleh rayuan dan godaan. Tidak goyah oleh kehidupan masa lalu sebagai anak yatim yang hidup di kalangan Badui, dipungut oleh sang kakek, kemudian sang paman, hidup sebagai penggembala kambing. Semua itu bukan penghalang bagi beliau untuk tetap hidup mulia jauh dari perkara-perkara hina dan sia-sia.

  1. Islam, Iman dan Takwa. Islam adalah agama yang dipeluknya. Iman berarti dalam arti keyakinan hati, dan takwa dalam arti amalan menunaikan perintah dan menjauhi larangan. Dengan Islam iman dan takwa itulah seseorang mendaki jalan kemuliaan. Semakin jauh ia meniti tangga itu maka semakin tinggi derajat kemuliaannya. Nabi bersabda, : ” Islam itu agama yang tinggi dan tidak ada yang mengunggulinya.” Dan demi memahami hakekat yang seperti itu, Umar bin Al Khaththab berkata, “Kita adalah suatu kaum yang Allah jadikan kemuliaan kita di dalam agama Islam. Bagaimanapun kita mencari kemuliaan selain darinya maka Allah akan menghinakan kita.” Dan dengan keimanan dan ketakwaan pula, seorang yang pernah diperbudak oleh orang yahudi disebut sebagai bagian dari keluarga beliau saw. “Salman adalah bagian dari kami ahlul Bait.” Allah berfirman, “Janganlah kalian merasa hina dan bersedih hati, sedang kalian adalah orang-orang yang mulia jika kalian beriman.”

  2. Orang yang mulia gemar memaafkan kesalahan orang. Memafkan bukan karena tidak sanggup untuk membalas. Namun memaafkannya di saat ia kuasa untuk menjatuhkan hukuman balasan. Kita tahu bahwa Rasulullah saw dan para shahabatnya diusir dari rumah dan kampung halaman mereka. Namun saat Rasulullah saw menguasai mereka dengan futuhnya Mekkah ke tangan kaum muslimin Rasulullah saw bukannya membalas permusuhan dan kebencian mereka dengan pembalasan yang setimpal. Justru yang diucapkan oleh Beliau saw adalah apa yang diucapkan Yusuf as kepada saudara-saudaranya yang dulu pernah memasukkannya ke dalam sumur.

Menegaskan bahwa kemuliaan itu membuka pintu maaf ada baiknya penulis sampaikan kisah berikut. Seorang laki-laki badui menghadap Rasulullah saw menanyakan, apakah kelak yang akan melakukan hisab di akherat hanya Dzat yang maha mulia saja tanpa ada yang lainnya? Beliaupun mengiyakannya. Orang badui yang faham akan arti sifat kemuliaan itu mengatakan, “Jika demikian urusan akan menjadi mudah. Karena yang mulia jika menghisab maka akan mengampuni.”

  1. Orang mulia gemar berbuat mulia. Terutama terhadap orang-orang yang lemah. Kaum wanita adalah kaum lemah dibanding kaum adam. Maka sudah sepantasnya jika kaum laki-laki berkewajiban mengayomi, melindungi dan memuliakan kaum wanita. Mereka adalah ibu, anak, saudari, bibi, nenek, cucu dari kaum laki-laki. Boleh jadi diantara mereka adalah guru atau murid kita juga. Maka Nabi saw bersabda, “Tidaklah seseorang memuliakan wanita melainkan ia adalah orang yang mulia. Dan tidaklah seseorang menghinakan kaum wanita melainkan ia adalah orang yang tercela.”

  2. Orang yang mulia menghindarkan diri dan berpaling dari orang-orang bodoh dan kaum musyrikin. Ia berteman hanya dengan orang-orang yang shaleh dan beriman. Dari itu Rasulullah saw diperintah berpaling dari mereka yang jahil dan musyrik. Beliaupun juga bersabda, “Seseorang itu berada dalam agama teman dekatnya…” Beliau hijrah pun untuk terpisah dengan orang-orang jahiliyah dan musyrik Mekkah ke negerinya orang-orang beriman di Madinah.

  1. Meninggalkan perbuatan yang sia-sia. Itulah tanda kebaikan keislaman seseorang yang sekaligus sebagai tanda kemuliaannya. Ia tidak menyia-nyiakan umurnya berlalu tanpa makna. Sabda beliau saw, “Min husni Islamil Mar-I tarkuhu maa laa ya’niyhi.”

  1. Gemar melakukan shadaqah. Sikap dermawan disebut sebagai al karom. Orang yang gemar bersedekah di sebut al kariim. Al kariim itu sendiri bermakna orang yang mulia juga. Dari itu adalah suatu hal yang tak terpisahkan jika Rasulullah saw adalah orang termulia, maka beliaupun adalah orang yang paling dermawan pula (ajwadannaas). Terlebih-lebih di saat bulan Ramadhan. Di sisi lain beliaupun makan dari hasil kerja sendiri, zuhud terhdap apa yang ada pada manusia, tamak terhadap apa yang di sisi Allah swt, haram menerima sedekah, halal menerima hadiah. Itulah sebaik-baik teladan. Karena tangan di atas lebih mulia dari tangan di bawah. Sedekah diberikan oleh yang berada untuk yang papa. Adapun hadiah, maka hanya diberikan untuk orang-orang yang berprestasi lagi mulia.

  1. Rasulullah saw bersabda, “Barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka ia bagian dari kaum itu”. Di satu sisi kita yakin orang Islam adalah orang mulia. Ia tak perlu merasa hina di hadapan orang kafir. Ia juga tidak perlu meniru-niru budaya mereka. Karena meniru-niru itu bagian dari ketakjuban dan yang pengakuan akan kekurangan dan kelemahan diri. Lantas di mana letak keislaman kita, dimana peran iman dan takwa kita sehingga kita merasa perlu mengekor terhadap budaya-budaya mereka. Kita akan kalah dan akan menjadi bagian dari mereka manakala setiap apa yang mereka kerjakan kita menirunya.

  1. Orang yang mulia , akan berkata dengan perkataan yang mulia. Dan jika diam adalah emas permata, maka baginya bicara yang baik, menyampaikan dakwah dan nasehat jauh lebih berharga darinya. Ia tak akan rela membiarkan kemungkaran di sekitarnya. Kemungkaran dan kemaksiatan baginya adalah kehinaan. Membiarkan kemungkaran dan kemaksiatan sebagaimana disabdakan Rasulullah saw adalah pertanda kosongnya iman. Orang yang mendiamkan kemungkaran di depan matanya dalam bahasa Nabi saw tak ubahnya syetan yang bisu. Sikap pengecut seperti itu berlawanan dengan kemuliaannya. Kemuliaannya itulah yang akan membawa kepada berbagi kemuliaan kepada sesama. Dari itu orang kaya yang mulia berbagi harta kepada sesama juga. Maka orang yang kaya dengan iman dan ilmu pun akan berbagi nasehat kepada sesama juga. Dan orang yang mulia adalah orang-orang jika berbicara maka keluarlah untaian-untaian mutiara petuah dan nasehatnya. Seruan-seruan menuju kebenaran dan kebaikan serta dakwahnya.

    Wa man ahsanu qaulan mimman da’aa ilallaahi wa ‘amila shaalihan wa qaala innaniy minal muslimiin.

    Semangat buat bisa mencontoh sifat Rasulullah makin menggebu!!!

\



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

et cetera
%d blogger menyukai ini: