Itamutiara’s Weblog











Tersiksa di dalam kubur <!– @page { size: 21.59cm 27.94cm; margin: 2cm } P { margin-bottom: 0.21cm } –>

Orang yang berada di dalam kubur adalah hidup. Ia hidup dalam kenikmatan atau dalam siksaan. Orang-orang yang beriman dan beramal shalih mendapatkan berbagai kenikmatan itu. Sebaliknya orang kafir dan fasik mendapatkan berbagai macam siksaan. Na’uudzu billah.

Namun dari sisi lain bisa saja orang beriman ia tersiksa karena tangisan keluarganya atau karena dikubur berdekatan dengan orang kafir/fasik sebagaimana dalam hadits yang dari segi sanad dan riwayatnya hadits itu sudah tidak terbantahkan lagi ke-shahih-annya. Hadits tersebut diriwayatkan oleh Ibnu Umar, Umar bin Khattab dan Mughirah bin Syu’bah, yang terdapat dalam kitab hadits shahih (Bukhari dan Muslim). Namun tentunya makna “tersiksa” disini tidak dapat disamakan dengan tersiksanya orang kafir/fasik yang memang dikarenakan perbuatan mereka di dunia.

Ibaratkan saja dengan orang yang sedang tidur. Ia bisa saja terganggu (baca tersiksa) gara-gara jeritan anak kecil atau orang-orang yang gaduh di sampingnya. Ia memang tidur, namun ketidaknyamanan menyelimutinya. Ia tidak tenang. Tidak dapat menikmati tidur pulasnya. Bangun tidur bukannya segar bugar melainkan kelelahan yag dirasakannya.

Begitu pula orang yang sedang mengadakan perjalanan jauh. Boleh jadi ia menikmati kendaraan yang ditungganginya, pemandangan yang dilaluinya, namun tetap saja yang namanya perjalanan jauh adalah sebuah kelelahan. Sering dalam perjalanan pulang dari suatu rekreasi yang menempuh perjalanan jauh seseorang memerlukan satu atau dua hari bahkan mungkin lebih untuk memulihkan tenaga dan keadaannya. Adakalanya yang memanggil tukang pijat untuk memijatnya, ada yang beli jamu atau dengan yang lainnya. Pendek kata, tak dapat dipungkiri bahwa safar (perjalanan jauh) itu merupakan bagian dari bentuk siksaan (kelelahan hidup) juga. Assafaru qith’atun minal ‘azaab.

Dengan telaah sebagaimana di atas kita dapat memahami dengan lebih baik (insya Allah) beberapa riwayat berikut:

Dikeluarkan oleh Abu Nuaim dan Ibnu Mandah dari Abu Hurairah ra ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, “Kuburkan orang-orang yang wafat di antara kalian di tengah-tengah kaum yang shalih, karena sesungguhnya seorang mayit itu merasa sakit dengan adanya tetangga yang buruk sebagaimana orang yang masih hiudup merasakan sakit dengan tetangga yang buruk.”

Dan dari Ibnu Abbas ra dari Nabi saw, Beliau bersabda, “Jika seseorang diantara kalian meninggal maka baikkanlah kafannya, segerakanlah wasiatnya, perdalamkanlah liang kuburnya, dan jauhkanlah ia dari tetangga yang buruk.”

Dikatakan ,” Ya Rasulullah.., apakah tetangga yang baik itu memberikan manfaat diakherat? Beliau berkata, “Apakah ia bermanfaat di dunia?” ia menjawab, iya. Beliau saw menukas,”Begitulah di akherat.”

Inilah yang juga di fahami oleh Ibnu Taimiyyah rahimahulah. Namun Syekh Al Albani berkomentar, ” Adalah tafsiran yang dikemukakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah di beberapa tulisan beliau bahwa yang dimaksud dengan azab (siksaan) dalam hadits tersebut adalah bukan adzab kubur atau azab akhirat melainkan hanyalah rasa sedih dan duka cita. Yaitu rasa sedih dan duka ketika mayit tersebut mendengar ratap tangis dari keluarganya.

Tapi menurut saya (Syaikh Al-Albani), tafsiran seperti itu bertentangan dengan beberapa dalil. Di antaranya adalah hadits shahih riwayat Mughirah bin Syu’bah: Sesungguhnya mayit itu akan disiksa pada hari kiamat disebabkan tangisan dari keluarganya.


Hadits tersebut berlaku bagi mayit yang ketika hidupnya dia mengetahui bahwa keluarganya (anak dan istrinya) pasti akan meronta-ronta (nihayah) apabila dia mati. Kemudian dia tidak mau menasihati keluarganya dan tidak berwasiat agar mereka tidak menangisi kematiannya. Orang seperti inilah yang mayitnya akan disiksa apabila ditangisi oleh keluarganya.

Adapun orang yang sudah menasihati keluarganya dan berpesan agar tidak berbuat nihayah, tapi kemudian ketika dia mati keluarganya masih tetap meratapi dan menangisinya (dengan berlebihan), maka orang-orang seperti ini tidak terkena ancaman dari hadits tadi.

Demikian Al Albani saat mendudukkan bahwa tidak ada benturan antara hadits dan ayat bahwa seseorang tidak memikul dosa orang lain.

Namun perlu diketahui, bahwa kehidupan alam kubur dalam bahasa hadits bisa dimasukkan ke dalam bagian kehidupan akherat. Terbukti dalam hadits dari Ibnu Abas di atas. Jadi menurut hemat penulis, pendapat Ibnu Taimiyyah lebih tepat, karena hadits Inbnu Abbas di atas jelas berkaitan dengan alam kubur yang dimasukkan dalam bagian alam akherat. Wallahu a’lam.

Setiap hari, kubur selalu menyeru kepada anak Adam, “Hai anak Adam.., bagaimana engkau lupakan diriku, apakah engkau tidak tahu bahwa aku ini rumah kesendirian dan rumah kesepian, rumah kengerian dan belatung, serta rumah himpitan kecuali bagi orang yang Allah lonngarka aku untuknya. Kemudian Beliau saw bersabda, “Kubur itu adalah taman dari taman-taman syurga atau lubang dari lubang-lubang neraka.” HR. Ath Thabarani di Al Ausath dari Abu Hurairah.

Selanjutnya, sebagaimana jelas dalam beberapa riwayat, apabila hal-hal seperti di atas sudah merupakan bagian dari siksaan padahal sangat boleh jadi ia adalah orang yang beriman, maka bagaimana lagi keadaan siksaan terhadap mereka yang kafir/fasik??? Tentunya sangatlah jauh lebih mengerikan. WASPADALAH..! WASPADALAH!!

Dan sebagaimana Rasulullah saw telah mengajarkan doa kepada kita di setiap penghujung tahiyyat akhir dalam shalat kita, agar kita membaca, “Allahumma innii a’uudzu bika min ‘adzaabi Jahanama wa min adzaabil qabri wamin fitnal mahyaa wal mamaati wa min fitnatil masiihid dajjaal.”, hendaknya pelajaran itu kita perhitungkan akan guna dan manfaatnya. Siapa yang masuk ke dalam kubur (mati) maka tak dapat lagi kembali ke dunia. Segalanya terputus kecuali tiga perkara; shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang shalih yang mendoakannya.

Rasulullah saw berkata kepada Maimunah ra, “Wahai Maimunah, berlindunglah engkau kepada Allah dari adzab kubur. Sesungguhnya yang termasuk adzab yang paling keras di dalam kubur tu disebabkan oleh menggunjing dan air kencing (yang tidak dibersihkan)”. HR. Ibnu Abi Dunya dan Al Baihaqi.

“Sesungguhnya siksa kubur (umumnya) dari tiga perkara; menggunjing, adu domba dan kencing”. HR Al Baihaqi dari Abu Hurairah.

Rasulullah saw bersabda, “Barang siapa yang membaca 100 kali di setiap hari kalimat ((laa ilaaha illallahul malikul haqqul mubiin)), maka ia mendapatkan keamanan dari kefakiran, kedamaian dari kengerian kubur, dan dibukakan baginya pintu-pintu syurga”. HR. Ad Dailami, Al Khathiib, Abu Nuaim, dan Ibnu Abdil Barr dalam At Tamhiid dari Ali bin Abi Thalib.

Wallahu a’lam.



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

et cetera
%d blogger menyukai ini: